Cegah Pencurian Dana Nasabah, Perbankan Harus Perkuat Keamanan SMS Banking

img

SIARAN PERS

Cegah Pencurian Dana Nasabah, Perbankan Harus Perkuat Keamanan SMS Banking

Peristiwa pencurian dana nasabah kembali terjadi. Seorang nasabah bank nasional di Kalimantan Barat kehilangan uang tunai Rp 51 juta. Anehnya korban bernama Abdur Rahman ini kehilangan uangnya setelah menyetor ke bank tersebut.

Polda Kalbar sendiri sudah menangkap para pelaku. Mereka mencuri dana nasabah menggunakan layanan SMS banking. Bahkan korban tidak tahu dan mengaku tidak pernah mengaktifkan layanan SMS banking, walau pihak bank membantahnya.

Peristiwa ini menarik perhatian pakar keamanan cyber, Pratama Persadha. Dalam keterangan persnya Sabtu (25/4) di Jakarta, sebenarnya kasus semacam itu seing terjadi, karena keamanan SMS banking di Indonesia sangat rendah.

“SMS banking di Indonesia belum cukup aman. Hanya beberapa bank besar yang sudah mengadopsi enkripsi untuk mengamankan layanan SMS Banking,” jelas Pratama.

Menurutnya perbankan harus memperkuat keamanan dan prosedur pada sistem mereka. Ini agar masyarakat sebagai nasabah tidak terus menerus disalahkan akibat ketidaktahuan mereka.

“SMS Banking ini paling banyak dipakai. Sudah ada lebih dulu dibanding internet banking. Jadi orang tua yang tidak pegang internet juga masih bisa transfer dari telepon seluler. Perbankan harus serius memperbaiki sistem SMS Banking,” tegas Pratama.

Ditambahkan olehnya, bahwa intersep SMS Banking sebetulnya sangat mudah. “Resiko keamanan terbesar dalam SMS Banking adalah tidak adanya enkripsi pada server penyedia layanan ponsel. Hal ini akan memudahkan hacker untuk mengambil informasi sensitif dari nasabah,” tambahnya.

Belum semua bank mengadopsi enkripsi pada server, pesan yang dikirim dan autentifikasinya. Menurut Pratama ini beresiko, pesan yang diterima dari bank bisa dicuri dan dibaca saat dikirim lewat jaringan seluler.

“Jadi bila jaringan seluler itu tanpa pengamanan, seharusnya bank berinisiatif untuk memperkuat layanannya dengan enkripsi. Sehingga saat pesan ke nasabah dicuri hacker, mereka belum tentu bisa membuka dan membacanya,” jelas Pratama.

Pria yang juga ketua lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini menghimbau agar perbankan bisa terus berbenah memperbaiki keamanan sistem mereka.

“Perbankan harus membuktikan pada nasabah bahwa mereka berkomitmen menjaga uang nasabah, tidak peduli berapapun nominal yang ditabung di bank mereka. Dengan begitu, masyarakat akan terus percaya dan Indonesia bisa terhindar dari rush atau penarikan uang massal dari perbankan,” tegasnya.