Kaleidoskop 2020

img

 

akhir Januari situs penjual data kartu kredit yaitu Joker Stash mengeluarkan daftar data transaksi kartu kredit yang diperkirakan 30 juta data transaksi. Diperkirakan Joker Stash menjual data tersebut di 40 negara

 

awal Februari 2020 masyarakat dihimbau untuk mewaspadai email atau surat elektronik (surel) palsu berisi ancaman virus corona. Karena di Jepang ditemukan sejumlah malware yang disebarkan lewat surel dengan teknik phishing.                                                    

 

Pembajakan WhatsApp menimpa Ravio Patra pada akhir April, yaitu seorang peneliti kebijakan publik. Selama dua jam, akun WhatsApp Ravio diduga telah dikuasai pembajak. Pelaku peretasan itu, ketika menguasai akun WhatsApp Ravio, menyebarkan pesan berantai ke nomor-nomor telepon yang bukan kenalan Ravio.

 

Awal Mei Publik tanah air dihebohkan oleh tokopedia dengan bocornya 91 juta data pengguna. Pelaku menjual data di darkweb berupa user ID, email, nama lengkap, tanggal lahir, jenis kelamin, nomor handphone dan password yang masih ter-hash atau tersandi. Semua dijual dengan harga US$5.000 atau sekitar Rp74 juta

 

Diakhir Juni 2020, Webinar di Zoom yang dihadiri Wakil Presiden Ma'ruf Amin diduga diretas. Saat sang wapres berbicara, tiba-tiba tampilan layar Ma'ruf Amin penuh dengan coretan. Aksi pertasan tersebut terjadi di hadapan ribuan orang yang menjadi peserta webinar.

 

Peretasan situs berita tidak hanya terjadi pada Tempo.co, tetapi juga media online Tirto di bulan Agustus 2020. Pemimpin Redaksi (Pemred) Tirto, Sapto  Anggoro, menduga bahwa hal tersebut  dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa tersinggung atas konten berita di Tirto.

 

Data pengguna ShopBack dan RedDoorz Bocor di bulan September 2020, Otoritas Singapura dilaporkan sedang menyelidiki pelanggaran kebocoran data pada ShopBack, setelah perusahaan platform cashback e-commerce tersebut mengumumkan insiden yang melibatkan akses tidak sah ke data pribadi pelanggan.

 

Oktober 2020, publik tanah air ramai saat situs web DPR yang beralamat dpr.go.id diretas. Hal tersebut diketahui melalui sebuah video yang viral di media sosial.  Video tersebut memperlihatkan halaman muka situs web DPR yang tulisannya diubah menjadi "Dewan Pengkhianat Rakyat".

 

Dikabarkan pada November 2020 aplikasi Muslim Pro yang menjual data penggunanya ke Militer Amerika Serikat (AS) menghebohkan masyarakat. Diketahui Militer AS membeli data tersebut untuk mendapatkan lokasi pengguna.

 

Diawal Desember 2020 publik tanah air sekali lagi dikejutkan oleh beredarnya video syur yang diduga mirip Artis. Ketika video maupun foto intim yang disimpan di smartphone tersebar di banyak platform sosial media maupun aplikasi pesan singkat, konten tersebut akan sangat sulit untuk dihapus.