Mendesak, Pemrograman dan Coding Masuk Kurikulum

img

Kebutuhan materi pemrograman dancodingkomputer masuk kurikulum pendidikan dinilai mendesak untuk dilakukan. Penguatan materi tersebut memang harus dikenalkan sejak dinni, setidaknya di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.

 

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Doktor Pratama Persadha mendukung materi pemrograman dan codingkomputer masuk kurikulum pendidikan. Materi tersebut sangat mendesak, karena hampir semua sendi kehidupan membutuhkan sistem Teknologi Informasi (TI), yang salah satunya dibangun lewat coding.

 

Ia mengemukakan hal itu ketika merespons beredarnya video Nadiem Anwar Makarim yang berpidato tentang pendidikan ideal untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh pada era digital. Menyinggung soal video yang viral tersebut, menurut dia, itu video lama atau sebelum Nadiem Anwar Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

 

Namun, pesannya jelas bahwa berkehidupan siber harus masuk dalam kurikulum pendidikan. Nadiem dalam video itu, kata Pratama, paling tidak menggarisbawahi empat hal penting. Pertama soal pentingnya bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

 

Artinya, bahasa asing harus mendapat perhatian khusus oleh semua elemen pendidikan. Menurut Pratama, efeknya jelas jika bahasa asing, terutama Inggris, dikuasai oleh sebagian besar siswa dan mahasiswa.

 

Dengan demikian, kesempatan untuk belajar, bekerja, dan membuka usaha di luar negeri akan terbuka sangat lebar. "Nadiem sendiri mendapatkan banyak pengalaman luar biasa di luar negeri yang membuatnya berani mendirikan Gojek pada 2010 ketika yang lain belum terpikirkan," kata Pratama.

 

Kedua, kata pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Nadiem memandang penting materi pemrograman dan coding komputerharus sedini mungkin diajarkan di sekolah, minimal sekolah menengah atas (SMA).

 

Pratama lantas mencontohkan India, salah satu negara yang sukses dengan fokus pada SDM teknologi sejak lama. Hasilnya para insinyur TI mereka dipakai di berbagai negara, Indonesia dan bahkan AS.

 

Puncaknya saat CEO Google dijabat oleh orang India bernama Sundar Pichai. Ketiga, coaching dan pengajar dari ekspertis dunia. Salah satu kesuksesan kota New York adalah berhasil menarik talenta terbaik seluruh dunia di berbagai bidang.

 

Oleh karena itu, transfer ilmu dan teknologi terjadi secara terstruktur maupun kultural. Pratama yakin, jika Indonesia lebih membuka diri dan memberikan banyak kemudahan riset akan menarik banyak orang pintar untuk berbagai ilmu di dalam negeri.

 

"Jadi, kita tidak hanya akan menjadi negeri konsumen, tetapi negeri para inovator," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) ini.

 

Keempat, lanjut dia, terkait dengan persaingan teknologi informasi, aplikasi, dan membangun startup. Hal ini dibutuhkan kemampuan statistik dan psikologi yang mumpuni.

 

Statistik jelas dibutuhkan untuk membaca data dan meraba masa depan. Psikologi yang

dimaksud adalah kemampuan meraba setiap user interface (UI) design, user experience (UX) design, dan kawan-kawannya apakah akan disukai oleh para pemakai.

 

"Ini membutuhkan kecakapan tersendiri. Oleh karena itu, memang sebaiknya diperkuat sejak dini atau SMA," kata Pratama.

 

Sumber: medcom.id