Waspadai Pencurian Data Pribadi Oleh Fintech, Berikut Tipsnya

img

 

Penyelenggaraan layanan pinjaman yang berbasis teknologi informasi (peer to peer lending) makin diminati masyarakat Indonesia. Dengan kehadiran layanan ini membantu masyarakat untuk meminjam uang semakin mudah.

 

Proses pengajuannya juga relatif cepat dan tidak serumit proses pinjaman melalui lembaga keuangan seperti bank.

 

Namun dibalik kemudahaan itu, terjadi banyak kasus berkaitan penyaluran kredit secara online diberbagai tempat.

 

Salah satunya yang saat ini tengah marak terjadi yaitu penjualan data pribadi pengguna yang diduga berasal dari aplikasi pinjaman online.

 

Sudah banyak masyarakat yang menjadi korban dalam kasus tersebut. Kebanyakan korban ini merasa di intimidasi dengan cara penagihan yang tidak sesuai ketentuan, hingga penyebaran informasi pribadi pengguna

 

Terbaru, terjadi pada Yuli di Solo. Perempuan ini mendapat intimidasi dari pihak aplikasi pinjaman online yang ia gunakan karena terlambat membayar pinjaman tersebut .

 

Bahkan dirinya dipermalukan oleh pihak jasa pinjaman online dengan menyebar poster foto dirinya di media sosial yang bertuliskan “Dengan ini saya menyatakan bahwa saya rela digilir seharapa Rp 1.054.000 untuk melunasi hutang saya di aplikasi INCASH. Dijamin Puas,”.

 

Pengamat Keamanan Siber dari CISSREC (Communication and Information System Security Research Center), Pratama Persadha menyarankan agar masyarakat atau pengguna berhati-hati ketika akan menggunakan jasa layanan pinjaman online.

 

Untuk itu tim energibangsa.id memberikan tips kepada sobat energi dan masyarakat dalam menggunakan jasa layanan pinjaman online sehingga tidak terjadi sebagaimana yang dialami para korban aplikasi pinjaman online.

 

Tips ini dirangkum energibangsa.id dari beberapa pengamat dan sumber. Berikut tips dalam memilih dan menggunakan jasa layanan pinjaman online.

 

Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

 

Masyarakat yang ingin meminjam dana melalui aplikasi pinjaman online hal yang pertama diperhatikan adalah memastikan terlebih dahulu aplikasi tersebut terdaftar di OJK atau tidak. Hal ini sangat diperlukan. Sebab, tidak semua aplikasi pinjaman online yang beredar di masyarakat saat ini dalam pengawasan OJK.

 

 Menurut Pratama, keberadaan pinjaman online yang illegal harus segera diberantas. Ia mengatakan “Masyarakat yang menemukan fintech semacam ini baiknya juga secara pro aktif memberikan laporan ke pihak terkait atau melaporkan ke Google agar di-banned atau dihapus,” disitir dari cnnindonesia.com

 

Ia berpendapat Fintech yang illegal dapat merugikan pengguna terutama terkait privasi dan keamanan data pribadi.

 

Pratama pun mengimbau agar OJK segera menertibkan aplikasi-aplikasi fintech bodong atau illegal. “Hal ini karena dapat berpengaruh terhadap kepercayaan pengguna terhadap fintech pinjol dan bisnis keuangan di tanah air,” katanya.

 

Baca syarat dan ketentuan

 

Sebelum  benar-benar memakai aplikasi pinjaman online untuk meminjam dana, pengguna atau masyarakat diminta untuk lebih cermat membaca serta mempertimbangkan apa yang menjadi syarat dan ketentuan peminjaman uang dari aplikasi pinjaman online tersebut.

 

Dalam beberapa kasus, aplikasi pinjaman online selalu memberikan iming-iming penggunan berupa bonus atau tambahan limit pinjaman apabila pengguna mendaftar dan memberi izin akses ke berbagai aplikasi.

 

Padahal aplikasi pinjaman onlen seperti itu belum tentu legal. Sehingga masyarakat atau penggunan diharapkan berhati-hati dan jangan mudah terlena akan bonus yang dijanjikan. Bisa saja terjadi, data pengguna dan data lain dari aplikasi yang ada di ponsel bisa diselahgunakan. 

 

Perhatikan permintaan akses data di ponsel

 

Selain itu, penggunan juga perlu memperhatikan dan mempertimbangkan permintaan akses fintech terhadap gawai pengguna.

 

Jika diluar kewajaran yang telah ditentukan OJK, maka persetujuan akses tersebut sebaiknya ditolak.

 

Selain ketiga tips tersebut, pengamat keamanan siber Vaksin.com, Alfons Tanujaya menambahkan bahwa konsumen disarankan sebaiknya memaksimal mungkin hindari fintech pinjol yang mengenakan bunga tinggi namun tidak menerapkan pengamanan data yang baik.

 

Sumber: CNN Indonesia