Pengamat: Jangan Cari Keuntungan di Internet dari Musibah Sriwijaya Air SJ 182!

img

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak, dilaporkan hilang kontak setelah empat menit setelah take off dari Bandara Soekarno - Hatta, pada pukul 14.40 WIB, Sabtu (9/1). Tim SAR Gabungan menemukan titik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Tim otoritas terus berupaya mencari puing-puing serta korban dari kecelakaan tersebut.

Sejak berita pesawat nahas ini ramai bermunculan, banyak pula warganet yang mencari tahu nama para korban dan akun sosial medianya, kemudian membagikannya kembali.

Tak ayal, beberapa akun sosial media korban tersebar di internet. Mayoritas yang dibagikan kembali oleh warganet untuk dijadikan konten adalah unggahan terakhir korban di sosial media.

Pakar keamanan siber, Pratama Persadha, menilai tidak etis warganet di Tanah Air mengunggah kembali hal tersebut. Menurutnya, fenomena ini sebenarnya tidak biasa terjadi.

Pratama menjelaskan, fenomena ini terjadi karena tidak lama setelah hilangnya kontak pesawat Sriwijaya Air, di banyak grup WhatsApp langsung tersebar foto dan file PDF manifest penumpang.

Manifest tersebut berisikan nama lengkap semua penumpang, yang kemudian menyulut keingintahuan warganet untuk mencari akun Facebook, Instagram, Twitter, maupun Youtube para korban.

"Sebagian besar dari netizen ini pastinya penasaran bagaimana postingan terakhir para korban, apakah ada tanda-tanda menunjukkan bahwa statusnya seperti salam perpisahan atau sejenisnya," kata Pratama, kepada MNC Portal, Minggu (10/1).

Lebih lanjut, Pratama menuturkan, warganet mungkin sekadar penasaran dan tidak punya tujuan buruk, meskipun tetap tidak etis terutama di tengah kesedihan keluarga korban.

Namun dia menggaris bawahi, ada juga yang memanfaatkan ini menjadi click bait, membuat berita dan unggahan yang menyesatkan. Serta mencari keuntungan dari musibah yang terjadi. Ini yang harus diwaspadai.

Dalam banyak kejadian jatuhnya pesawat di berbagai belahan dunia, sering kali beredar kabar hoaks terkait adanya korban yang sempat mengirimkan WhatsApp atau telepon saat posisi pesawat akan jatuh. Hal semacam ini sering membuat masyarakat penasaran dan tertipu dengan berita tersebut.

"Karena itu harus sangat selektif kita memilih berita. Ini juga harus menjadi pelajaran para pihak bagaimana manifest bisa dengan cepat bocor ke publik," tambah chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) itu.

Pratama juga mengingatkan kepada para influencer, bisa membantu mengingatkan dan mengedukasi warganet untuk menjaga perasaan keluarga korban.

Selain itu yang paling penting, biasanya dengan peristiwa seperti ini akan banyak konten hoaks berseliweran. Ada yang membidik trafik di YouTube, web, media sosial, maupun yang menyebarkan link palsu berisi malware.

Intinya, berhati-hati dan jangan mudah membuka link URL dengan alamat yang aneh dan tidak biasa. Misalnya mengaku dari portal berita resmi namun menggunakan domain yang tidak biasa.

"Lumrahnya di tanah air domain memakai .com .id .co.id, itupun masih sering ditemui web abal-abal yang beritanya menyesatkan, jadi kita harus saling mengingatkan," tandas Pratama.

sumber:sindonews