Kenali Maraknya Penipuan Online saat Pandemi

img

Menurut data International Telecommunication Union, lebih dari 90% negara pun kurang memperhatikan pentingnya keamanan siber, termasuk Indonesia. Sementara, laporan Global Cybersecurity Index 2018 menempatkan negeri ini di peringkat 41 dari 175 negara yang dengan kata lain masih jauh dari aman.

Lantas, bagaimana cara agar kita terhindar dari kasus penipuan online?  

Pertama, jangan pernah memberikan kode apa pun melalui SMS, email atau telepon kepada siapa pun. Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, pada dasarnya penyedia layanan digital maupun bank tidak pernah dan tidak boleh meminta PIN, password atau kode akses apa pun kepada pemilik akun layanan.

“Jadi, bisa dipastikan yang meminta itu adalah penipu,” ujar Alfons kepada Katadata.co.id, Jumat (2/10).

Kedua, jangan mudah percaya terhadap nomor asing. Peneliti Keamanan Siber Communication Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan, penting unntuk terlebih dahulu menyelidiki kebenaran identitas penelepon. Apalagi ketika penelepon melakukan panggilan menggunakan nomor luar negeri.

Biasanya penelepon mengelabuhi korban dengan mengatasnamakan diri sebagai pihak operator atau pegawai bank yang memberikan iming-iming hadiah. “Penting untuk tidak memberikan informasi apapun melalui telepon, termasuk nama, alamat, atau pekerjaan kita kepada nomor tidak dikenal,” ujar Pratama.

Ketiga, membeli atau memesan produk di platform resmi dan memperhatikan testimoni pembeli lain. “Karena banyak konsumen yang sudah membayar ternyata ditipu, barangnya tidak dikirim,” ujar Peneliti Keamanan Siber dari Indonesia ICT Institute Heru Sutadi.

Selain pencegahan dari sisi pengguna, perusahaan digital pun telah mempertebal dinding keamanan di platformnya untuk mencegah maraknya penipuan online di tengah pandemi. Seperti Gojek yang menjamin sistem keamanan bertransaksinya lewat inisiasi Gojek Shield yang mencakup fitur penyamaran nomor telepon, intervensi chat, dan tombol darurat.

VP of Data Science Gojek Syafri Bahar mengatakan, memanfaatkan artificial intelligence dan machine learning untuk mencegah dan menindak setiap perilaku mencurigakan yang terjadi pada platformnya. Hasilnya telah berhasil mengungkap sindikat pelaku order fiktif yang menggunakan Global Positioning System (GPS) palsu.

“Kami menggunakan artificial intelligence untuk mempelajari pola-pola fraud (penipuan) yang terjadi seperti apa. Sehingga kami bisa melakukan langkah-langkah preventif,” ujar Syafri kepada Katadata.co.id, Kamis (1/10).

Syafri mengatakan tak hanya mengembangkan berbagai fitur keamanan bagi pelanggannya, tapi juga para mitra pengemudi dan gerai, seperti fitur verifikasi wajah, biometrik,dan sidik jari.

Gojek juga mendorong edukasi kepada para pelanggan dan mitranya agar tetap waspada terhadap potensi penipuan. Syafri mengimbau pengguna agar selalu menerapkan ‘JAGA’, yakni Jangan bayar di luar aplikasi; Amankan data pribadi / jangan bagikan kode OTP; Gunakan PIN, serta Adukan hal mencurigakan melalui email resmi dan halaman bantuan pada aplikasi.

sumber : katadata