Marak Penipuan Online, Kaesang Pangarep dan Ahli IT Ungkap Modusnya

img

Putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep belakangan menjadi pembicaraan warganet karena menjahili para penjual yang diduga penipu online. Pakar informasi dan teknologi (IT) mengatakan, penipu biasanya beraksi dengan modus rekayasa sosial (social engineering) di media sosial maupun platform lainnya.

Pakar keamanan siber di Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, penipu biasanya mengelabui korban untuk bertransaksi atau mengirimkan uang ke rekening. “Ada berbagai macam kreativitas yang dilakukan penipu," ujarnya kepada Katadata.co.id, Selasa (8/9).

Ia mencontohkan, penipu memasarkan produk yang sebenarnya tidak ada, melalui media sosial. “Karena murah, biasanya orang gelap mata dan mentransfer sejumlah uang ke rekening,” kata dia.

Selain harga produk yang lebih murah dibandingkan rerata, biasanya penipu tidak menyertakan tautan ke toko online di e-commerce. Penipu juga umumnya membatasi komentar pada unggahan.

Alfons menyarankan konsumen berbelanja di e-commerce. Sebab, berbelanja di media sosial sangat rentan penipuan karena tidak ada pihak ketiga yang memastikan keamanan transaksi.

Sedangkan Peneliti Keamanan Siber Communication Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengimbau calon pembeli mengecek ulasan dari konsumen sebelumnya. “Bisa dilihat dan menilai toko itu tepercaya atau tidak,” katanya.

Ia juga menyarankan warganet tidak mudah tergiur tawaran hadiah (give away) di media sosial.

Belakangan ini Kaesang Pangarep juga gencar membongkar praktik dugaan penipuan secara online. Anak ketiga Presiden Jokowi itu berpura-pura membeli tiga setel pakaian seharga Rp 125 ribu di akun Instagram @kharunia.homedress.

Hal itu karena ia mendapatkan informasi dari warganet bahwa akun tersebut dikelola oleh penipu. “Saya iseng membeli barang mereka," kata Kaesang melalui akun Twitter-nya @kaesangp, kemarin (7/9).

Kaesang mentransfer sejumlah uang dan menyertakan alamat pengiriman yakni Istana Kepresidenan Bogor. Setelahnya, akun Kaesang justru diblokir oleh @kharunia.homedress. “Setelah saya transfer, uangnya malah dikembalikan dan diblokir," ujar dia.

Lalu, Kaesang mencoba bertransaksi di akun penjual gawai yang juga disebut oleh warganet sebagai penipu. Namun, sebelum sempat membeli Samsung S20 Ultra seharga Rp 3,7 juta, akunnya diblokir oleh penjual.

Ia mengalami hal serupa ketika hendak membeli iPhone seharga Rp 250 ribu melalui WhatsApp. Hal ini karena ia menyertakan alamat Istana Bogor. “Tidak seru ah. Akun (yang disebut-sebut) penipu memblokir (akun) saya,” kata Kaesang.

Berdasarkan data kepolisian, ada 2.259 laporan terkait kejahatan siber selama Januari-Juni tahun ini. Sedangkan sepanjang tahun lalu jumlahnya mencapai 4.586.

Khusus terkait penipuan online, ada 649 laporan yang masuk per bulan ini. Sedangkan sepanjang tahun lalu jumlahnya mencapai 1.617 laporan. Polisi mencatat, penipuan online biasanya melalui email, situs web dan media sosial.

 

Selain itu, penipuan bisa terjadi di e-commerce. Dikutip dari Cyberthreat, konsumen bernama Nella kehilangan puluhan juta saat membeli masker di toko bernama Mr.01 center di Bukalapak pada Februari lalu.

Bukalapak langsung memblokir akun tersebut saat itu. Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengatakan, kejadian itu merupakan salah satu bentuk penipuan (phishing). Akun mitra penjual tersebut dibajak oleh peretas (hacker).

Intan menyarankan, pengguna tidak memberikan data pribadi dan informasi yang bersifat rahasia. Konsumen juga diminta untuk berhati-hati dan tidak membuka tautan yang diberikan oleh oknum mengatasnamakan Bukalapak.

Konsumen juga diimbau mempelajari langkah menjaga keamanan akun, termasuk merahasiakan data pribadi dan kode One Time Password (OTP). Selain itu, tak membuka tautan mencurigakan. 

Lalu, hanya bertransaksi di platform resmi Bukalapak dan berhati-hati pada pihak yang mengatasnamakan perusahaan. Konsumen juga diminta selektif memilih pelapak. Bertransaksi menggunakan sistem pembayaran resmi, serta mengenali nomor tagihan.

Sejumlah oknum juga menipu konsumen dengan menjual masker kesehatan di media sosial mengatasnamakan keamanan layanan teknologi finansial (fintech) pembayaran GoPay dan OVO.

Senior Vice President dan Head of IT Governance and Information Security GoPay Genesha Saputra mengimbau konsumen melaporkan hal mencurigakan ke customer service perusahaan. Untuk Gojek, melalui +6221-5084-9000 atau customerservice@gojek.com, maupun langsung ke kepolisian.

Konsumen juga diimbau untuk lebih waspada dan berhati-hati ketika menekan tautan atau situs yang dikirim oleh oknum. "Ini karena bisa jadi itu situs phishing yang meminta data pribadi yang dapat kemudian disalahgunakan," ujar dia.

sumber:Katadata