Soal Pembobolan Rekening Pakai Setruk ATM dan Data KPU, Ini Saran Pengamat Siber

img

Direktorat Reserse Kriminal umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan berhasil membongkar komplotan pembobol rekening nasabah bank daerah.

Dua tersangka yang ditangkap adalah Aziz Kunadi (36) warga Desa Jagapura, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan Mujianto (34) warga Desa Penarik, Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu.

Mereka ditangkap pada (18/7/2020) di kediaman masing-masing tanpa perlawanan. Komplotan tersebut diketahui memanfaatkan setruk ATM dan data KPU untuk memalsukan data korban dan mengeruk saldo yang tersimpan.

"Ketika saldonya besar, pelaku ini langsung mengambil setruk milik korban. Kemudian mereka membuat KTP korbannya dengan mengambil data pemilih dari website milik KPU," kata Kasubdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel, Kompol Suryadi, Kamis (23/7/2020).

Kepala Lembaga riset siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center), Pratama Persadha mengatakan, penggunaan data KPU sebagai salah satu sumber data untuk aksi kejahatan memang mengkhawatirkan.

Menurut Pratama, KPU harus meningkatkan sistem keamanan data.

"Meski saat ini data nomor KTP dan KK sudah “ditutup”, namun data yang beredar sudah terlanjur menjadi konsumsi publik dan menjadi bahan baku penipuan," jelas Pratama melalui pesan singkat.

Pratama menjelaskan ada dua hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan perlindungan, yakni keamanan sistem informasi dan pengamanan data itu sendiri.

KPU juga perlu melakukan digital forensic dan penetration test, serta memastikan sumber daya manusia (SDM) dan vendor pendukung sudah menggunakan teknologi terkini dan paling aman.

 

Selain itu, penggunaan enkripsi perlu dilakukan secara menyeluruh pada data masyarakat yang dihimpun dan dikelola.

sumber:kompas.com