Pemerintah Diharap Jaga Data Hasil Survei BPS

img

Tahun ini BPS kembali melakukan sensus penduduk, yang biasanya sensus dilakukan relawan door to door (offline), namun pada kali ini warga Indonesia juga bisa mengisisi data secara mandiri (online). Ini merupakan pertama kalinya dilakukan sensus online dengan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi langsung melalui situs website di alamat sensus.bps.go.id.

Untuk pengisian sensus penduduk online 2020 bisa dilakukan mulai dari tanggal 15 Februari kemarin hingga 31 Maret. BPS melibatkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan ahli IT untuk pencegahan serangan atau gangguan-gangguan siber dan memastikan keamanan data, namun hak penduduk dan penggunaan data tidak dijelaskan secara detail sejak awal pengisian data pribadi. Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan seluruh data individu dijamin kerahasiaannya oleh Undang-Undang.

Dalam keterangannya Rabu (19/02) pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa walaupun dijamin undang-undang, tetap saja ada kemungkinan kebocoran data seperti yang terjadi di Ekuador, Amerika Selatan. Sebanyak 20 juta data terekspos, bocornya data seluruh penduduk satu negara itu diketahui pada bulan september 2019.

"Ancaman data yang bocor sangat banyak, meliputi nama lengkap, jenis kelamin, tanggal lahir, tempat lahir, alamat, surat elektronik, nomor rumah, status pernikahan, hingga data terkait pekerjaan dan pendidikan. Data sensitif yang bocor nantinya bisa memvalidasi serangan penipuan phishing dan model kejahatan siber lainnya," jelas chairman Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC ini.

Ditambahkan Pratama pemerintah harus selalu mengamankan data untuk memastikan data tak akan bocor ke publik seperti kasus pembobolan rekening yang dialami wartawan senior Ilham Bintang beberapa waktu lalu. Ia mengatakan hal tersebut berpotensi besar jika data sudah menjadi digital maka penyalahgunaan teknologi sangat mungkin terjadi.

"Untuk cara offline seharusnya petugas yang datang memakai ID Card dilengkapi QR Code khusus yang di enkripsi lalu terhubung pada website BPS. Jadi, masyarakat, minimal Pak RT bisa download aplikasi yang bisa memverifikasi petugasnya apakah benar resmi. Karena semua atribut petugas mudah dipalsukan." terang pria asal Cepu jateng ini.

Pratama juga menghimbau pemerintah untuk berhati-hati terkait kepada pihak ketiga atau vendor dalam mengakses, memproses, atau menyimpan data. Pihak ketiga perlu diverifikasi sehingga dapat mematuhi kontrol keamanan yang baik. Kejadian yang terjadi dalam akses server e-KTP dulu diharapkan tidak kembali terjadi.

sumber: SuaraMerdeka