Sejumlah Bahaya Mengintai Pengguna Ketika Menggunakan VPN Gratis

img

Pembatasan pada sejumlah fitur media sosial dan platform pesan instan seperti WhatsApp, membuat para pengguna menggunakan Virtual Private Network (VPN). Penggunaan VPN untuk mengakali aturan pembatasan akses media sosial oleh pemerintah. Dengan layanan ini, para pengguna dapat mengakses fitur-fitur seperti gambar dan video yang telah diblokir.

 

Namun penggunaan VPN bukannya tanpa konsekuensi, apalagi yang digunakan adalah VPN gratis. Setidaknya ada beberapa bahaya yang harus dipahami oleh pengguna. Diantara bahaya tersebut antara lain:

 

1. Pencurian Data

 

Penggunaan layanan VPN untuk menembus pembatasan akses pemerintah berpotensi terjadi pencurian data pengguna yang ada di ponsel. Terutama jika layanan VPN yang digunakan tidak terpercaya.

 

Sebab, ketika ponsel terhubung dengan server penyedia VPN, pemilik server sejatinya bisa melihat seluruh isi lalu lintas data pada ponsel yang terhubung. 

 

Data yang diambil bisa berupa data yang ditransmisi selama ponsel terhubung, seperti mengekstrak komunikasi, mencuri data username (nama pengguna), password (kata kunci), data finansial, dan data penting lain. 

 

 

2. Mengandung Malware

 

Dari penelitian CSIRO, lebih dari 38 persen aplikasi gratis VPN mengandung malware alias program berbahaya. 

 

Malware bisa datang dalam bentuk apa pun dan yang tersembunyi pada VPN bisa mencuri data dan digunakan untuk menargetkan iklan dan email spam pengguna. Selain itu juga bisa membajak akun secara online. 

 

Malware juga bertanggung jawab untuk mencuri uang dan barang atau produk digital. Kejahatan lainnya seperti mengunci atau mengenkripsi perangkat dan meminta imbalan untuk mengembalikannya. 

 


3. Membuat Profil Pengguna

 

VPN dapat melacak untuk mengumpulkan data pribadi penggunanya. Kasus ini mirip dengan Cambridge Analytica yang membuat profil pengguna dari Facebook.

 

Lewat profiling ini, penjahat siber dapat membuat peta kebiasaan pengguna dan dimanfaatkan untuk mengarahkan opini pengguna.

 

Ketika VPN digunakan dalam jangka waktu lama maka profil pengguna dapat diketahui. Misal pengguna teridentifikasi sering mengunjungi situs film, memiliki preferensi politik tertentu dan seterusnya. Sehingga data tersebut kemudian dapat digunakan oleh penjahat untuk mempengaruhi pengguna.

 


4. Mencuri Bandwidth

 

Sejumlah bisnis menggunakan VPN gratis untuk mencuri bandwidth dan menjualnya kembali pada pihak ketiga. 

 

alah satu contohnya layanan berbasis di Israel, Hola VPN. Layanan ini diketahui telah mencuri bandwidth dan dengan curang menjual lewat sister company, Luminati.  

 

Dalam kebijakan sistemnya, Hola mengakui mereka mungkin akan membagikan data pengguna dengan pihak ketiga. 

 

 

5. Membajak browser

 

Cara VPN menghasilkan uang bisa juga dengan cara pembajakan browser. Ini akan terjadi saat layanan itu mengalihkan browser pada website partner tanpa izin pengguna. 

 

Hotspot Shield VPN ditemukan mengalihkan permintaan HTTP pada situs e-commerce seperti Alibaba dan e-Bay lewat jaringan mitranya. 

 

 

6. Kebocoran data

 

VPN yang baik seharusnya mengamankan dan melakukan enkripsi pada trafik antara perangkat dengan server VPN. 

 

Namun sejumlah layanan VPN baik yang gratis dan berbahaya, ditemukan banyak yang membocorkan data pengguna. Kebocoran berasal dari IP address dan DNS, masalah yang kerap terjadi di VPN gratis. 

 

Penelitian CSIRO menemukan 84 persen VPN gratis membuka IPv6 pengguna yang nyata dan unik secara global. Selain itu juga 60 persen VPN gratis membocorkan permintaan DNS, ini membuat history dan lokasi browser pengguna terbuka.