Masalah Bug Google Plus Harus Jadi Peringatan Pelaku Startup Di Tanah AIr

img

Bug sering menjadi masalah pemograman, termasuk dalam sebuah web maupun aplikasi yang sudah jadi. Karena itu diperlukan digital forensik secara berkala oleh internal developer maupun pihak ketiga.

 

Fungsinya jelas mengetahui kekurangan. Dalam banyak kasus, bug menjadi “aib” bagi sebuah produk. Facebook misalnya dalam fitur “view as” menjadikan password bisa diekspos oleh pihak ketiga. Dalam banyak kasus bug bisa saja membuka celah keamanan, entah membuka user admin dan passwordnya maupun celah keamanan sangat terbuka.

 

Dalam kasus Google Plus juga, bug pada API (Application Programming Interface) membuat lebih dari 500.000 data privasi pengguna terekspos. Ini menjadi tamparan bagi Google, bahkan kini diperkirakan 52,5 juta akun data privasinya terekspos karena bug pada API tersebut.

 

Ini sebenarnya hal yang terjadi di banyak aplikasi dan web, namun menjadi ramai karena yang mengalami adalah raksasa teknologi seperti Google dan Facebook yang sebagian besar penduduk dunia memakainya. Banyaknya data dan informasi yang sensitif membuat isu ini menjadi besar pula.

 

Bug juga sering membuat pengakses kesulitan, karena tidak bisa input atau gagal posting dan sering eror pada aplikasi atau web. Prinsipnya adalah developer melakukan cek terus menerus agar bug yang ada segera bisa dibenahi.

 

Selain itu, digital forensik juga bisa membantu mengetahui adanya celah keamanan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggungjawab. Google bahkan pernah menyelenggarakan “sayembara” untuk setiap penemu celah keamanan di dalam sistem mereka. Ini dimaksudkan untuk melihat respon dan pihak ketiga, daripada menjadi peretas, Google menawarkan sejumlah uang untuk yang berhasil menemukan kelemahan pada sistem mereka.

 

Kasus pada Facebook dan Google seharusnya menjadi perhatian kita di tanah air. Indonesia yang masih hype akan startup harus menjadikan faktor keamanan pada web, aplikasi dan jaringan pendukung sebagai prioritas. Raksasa teknologi saja masih kecolongan, artinya isu keamanan siber dan pencegahan sedini mungkin akan lubang keamanan harus terus digaungkan.