Pratama Persadha Paparkan Konsep Teknologi Siber Aman Menuju Jogja Cyber Province 2019, Bersama Sri Sultan dan Rektor UNY

img

Program Jogja Cyber Province 2019 yang dicanangkan oleh Pemprov DI Yogyakarta merupakan langkah yang tepat. Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, arus transfer informasi semakin sulit dibendung. Melalui program ini, Pemprov DIY berupaya turut hadir dalam memberikan konten positif di dunia maya, menyajikan transparansi pengembangan infrastruktur, menyalurkan edukasi ke warga, dan menjamin keamanan di ranah siber.

Dalam keterangannya Rabu (4/10), pakar keamanan siber Pratama Persadha menyambut baik program Jogja Cyber Province 2019. Menurutnya, DIY merupakan salah satu provinsi dengan aktivitas digital tertinggi di Indonesia.

“Setiap harinya, ada sekitar 2 juta orang pengguna Facebook di Jogja. Ditambah lagi, pemakai internet di tanah air didominasi oleh generasi milenial. Dalam 10 tahun mendatang, kita akan melihat kehidupan tanah air akan didominasi kegiatan di dunia maya,” jelas chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Lebih lanjut lagi Pratama menambahkan, media sosial merupakan pintu masuk informasi paling utama yang dapat menjadi sarana promosi murah, cepat, dan tepat sasaran. Ditambah lagi dengan karakter pelaku usaha di Jogya yang kerap menyampaikan konten positif di media sosial hingga ditonton jutaan orang. Hal inilah yang dapat memicu timbulnya potensi kejahatan di dunia siber.

“Keamanan data dan informasi digital harus menjadi prioritas penting. Mengingat pada 2015, jumlah kasus kejahatan siber di Indonesia meningkat signifikan hingga 389% dari tahun 2014,” lanjut pria asal Cepu, Jawa Tengah ini.

Tingginya angka kejahatan siber di Indonesia ternyata tidak membuat pengguna internet merasa khawatir. Berdasarkan data dari Kaspersky, pada paruh kedua tahun 2016, sebanyak 58% pengguna internet di Indonesia tidak percaya bahwa mereka bisa menjadi sasaran dari penjahat siber, 36% tidak menggunakan solusi perlindungan pada semua perangkat, dan 58% dari mereka yang disurvei terkena dampak dari ancaman siber dalam beberapa bulan terakhir.

“Kita tidak bisa menutup mata pada ancaman ini. Cyberspace adalah wilayah baru setelah darat, laut, dan udara. Pada tahun 2014 saja, sudah ada sekitar 400 miliar dolar kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan di dunia siber,” terang Pratama.

Kasus peretasan website Telkomsel dan tiket.com oleh Sultan Haikal dkk seharusnya dapat dijadikan pelajaran sekaligus peringatan terhadap rentannya keamanan dunia siber di Indonesia.

“Dengan semakin tingginya tingkat kunjungan wisatawan, bukan tidak mungkin Jogja menjadi lokasi favorit pelaku kejahatan siber. Bali sudah merasakannya,” jelas Pratama.

Pratama menjelaskan, ada tiga hal yang harus dilakukan terkait keamanan siber, yaitu penguatan SDM, baik di pemerintahan maupun di masyarakat, penguatan infrastruktur siber, serta peningkatan standar keamanan siber di semua sektor.

“Yogyakarta bisa menjadi contoh kehidupan siber ber-Pancasila dengan pemanfaatan wilayah siber oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat yang maksimal. Namun, tidak lupa juga diikuti oleh keamanan siber yang mumpuni menyertai pemanfaatan kemajuan teknologi tersebut.”

Menurutnya, cyberspace ber-Pancasila merupakan kehidupan siber yang memadukan berbagai elemen pendukung, di antaranya pengguna internet yang cerdas, undang-undang dan regulasi yang progresif, kemandirian industri teknologi, kesigapan aparat pemerintah, dan infrastruktur siber yang kuat.

“Harapannya birokrasi bisa semakin dekat dan melayani masyarakat. Selain itu juga dapat membantu pelaku usaha di Jogja dalam meningkatkan lewat teknologi lewat wilayah siber. Indrustri kreatif pun akan lahir dengan mengadopsi keamanan siber di setiap produknya. Dan yang terpenting, menjadikan Yogyakarta wilayah yang aman dan nyaman, bebas dari aksi pelaku kejahatan siber, dan tidak menjadi lokasi favorit kejahatan siber.”