5G Masih Belum Matang untuk Diterapkan

img

Lebih lanjut dia mengatakan, 5G masih belum pada tahap yang sangat matang untuk diterapkan. Salah satu aspek terbesar yang masih menjadi perdebatan adalah aspek threshold antara keamanan (security) dan privasi (privacy).

Pengguna memerlukan end-to-end security dan enkripsi yang kuat untuk meningkatkan privasinya. Tetapi, dari segi penegak hukum, 5G sebenarnya dapat menjadi hambatan karena tingkat privacy yang tinggi ini juga sangat berpotensi untuk disalahkan gunakan oleh para kriminal.

Pratama mengatakan, jenis serangan yang dilakukan oleh attacker/ hacker terhadap sebuah komputer/ perangkat, atau server melalui jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber daya (resource) yang dimiliki oleh komputer/perangkat tersebut (distributed denial of service attacks/ DDoS) merupakan salah satu serangan yang diprediksi meningkat karena penggunaan jaringan 5G.

Sedangkan dari sisi penyedia layanan (provider), para penyedia jasa telekomunikasi dipastikan tidak mau rugi. Sebagai contoh, provider tidak mau membangun infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator (base transceiver station/BTS) di daerah perbatasan karena dinilai tidak menguntungkan secara bisnis.

Padahal, pembangunan BTS di daerah perbatasan dapat memberikan kemudahan telekomunikasi kepada masyarakat dan sekaligus menegakkan kedaulatan NKRI. Dalam hal ini pemerintah dapat turun serta dengan mendorong pembangunan BTS di daerah perbatasan, di antaranya melalui penyediaan subsidi dana investasi dan dukungan program lainnya.

“Memperkuat layanan 4G di beberapa wilayah yang belum mendapatkannya bisa menjadi langkah awal. Sementara itu, untuk wilayah yang sudah terjangkau 4G dapat langsung diuji coba menggunakan teknologi 5G, contohnya di kota-kota besar. Uji coba ini akan menjadi trial and error bagi pengembangan teknologi 5G selanjutnya, sehingga tidak menghabiskan biaya tinggi,” ujarnya. (lm)