Pakar Minta Kebijakan Suntik Mati TV Analog Ditinjau Ulang, Ini Penjelasannya

img

JAKARTA - Pemerintah diminta meninjau ulang soal kebijakan mematikan TV analog lantaran masih mendapatkan persoalan yang merugikan masyarakat.

Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSREC, Pratama Persadha mengatakan bahwa fakta di lapangan mendapatkan bahwa tidak semua masyarakat memiliki set top box (STB) TV digital maupun televisi yang sudah berteknologi TV digital.

Di sisi lain, STB TV Digital yang beredar umum saat ini berharga di kisaran Rp150 ribu hingga Rp300 ribu dengan berbagai merek.

Selain itu dibutuhkan kabel HDMI atau RCA (tergantung tipe televisinya) untuk menghubungkan STB TV digital ke televisi. Bagi yang televisinya sudah support TV Digital tidak lagi membutuhkan STB ini.

"Masalahnya adalah tidak semua masyarakat memiliki STB TV Digital dan juga tidak semua televisi yang dimiliki masyarakat sudah support TV Digital. Karena itu saat siaran TV analog di Jabodetabek dimatikan, masih banyak masyarakat yang kebingungan karena tidak bisa menonton acara televisi," kata Pratama dalam keterangannya, Sabtu (5/11/2022).

Menurut dia, program TV digital harus didukung dengan sosialisasi serta pemerataan hardware TV digital yang baik di masyarakat. Misalnya program STB TV digital ini dibagikan secara luas ke masyarakat yang membutuhkan serta kesulitan membeli STB TV Digital.

Bahkan bila perlu, lanjut dia, peredaran dan penjualan televisi di Indonesia wajib sudah support TV digital. Bagi televisi yang sudah terlanjur berada di toko sebagai stok, wajib dijual dengan bundling STB TV digital, agar saat dibeli masyarakat bisa digunakan dengan maksimal.

"Tujuannya agar masyarakat ada pilihan saat membeli televisi, sekaligus membantu para pedagang yang sudah terlanjur menyetok televisi non TV digital," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan peralihan ke TV digital juga harus didukung lintas kementrian. Sehingga Kominfo bekerja sama dengan kementerian lain seperti Kementerian Perindustrian (kemperin) soal kewajiban televisi yang dijual di Indonesia harus support TV Digital.

"Jika bicara smart TV android yang banyak beredar di tanah air sebagian masih belum support TV Digital, ini juga harus menjadi perhatian pemerintah. Bila melihat di TikTok Shop, platform medsos dan jual beli yang sedang naik daun di Indonesia, para influencer yang juga afiliator menjelaskan bahwa STB TV Digital, termasuk yang paling laris terjual," ujarnya.

"Ini karena para influencer di TikTok melakukan sosialisasi mandiri terkait TV Digital," imbuh Pratama.

Selain itu, menurut dia, kesiapan teknis juga harus benar-benar matang. Saat ini memang TV analog yang dimatikan baru di wilayah Jabodetabek. Namun, program ini akan dilaksanakan secara nasional kedepannya.

"Beberapa influencer di daerah ada yang mempertanyakan mengapa saat mereka mengakses TV digital di daerahnya masih sulit, program channel belum masuk, sehingga mereka masih memakai TV analog bahkan banyak kini yang memilih mengakses channel TV dengan internet," tuturnya.

Sehingga, menurut Persada, kebijakan suntik mati TV analog harus dicek kembali, mulai dari kesiapan teknis TV digital agar meratadan kesiapan lainnya.

"Prinsipnya adalah jangan ada masyarakat yang dirugikan dengan program TV digital ini. Win win solution bagi semua pihak harus dipikirkan pemerintah, agar masyarakat tidak tiba-tiba kehilangan akses informasi," tutur pakar siber itu.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong mengatakan Analog Switch Off (ASO) atau penghentian siaran TV analog dan beralih ke siaran digital di Jabodetabek dimulai 2 November 2022.

Ia menyebut, posisi pemerintah dalam program ASO adalah memfasilitasi dan mendukung industri untuk menghadapi disrupsi digital.

"ASO ini justeru kita lakukan agar industri pertelevisian bisa bersaing dengan disrupsi digital," tuturnya.

sumber:okezone