Marak Penipuan Catut Profil WA Tokoh, Warga Diminta Waspada

img

Publik diramaikan dengan beredarnya kabar penipuan kegiatan lelang melalui WhatsApp yang mencatut nama dan foto profil akun Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik.

Pelaku mencatut foto Rachland, lalu menghubungi banyak kontak lewat aplikasi WhatsApp dan menawarkan mereka mengikuti lelang sambil meminta uang muka.

"Ada orang menggunakan foto saya dan menghubungi banyak orang dengan tujuan menipu. Modusnya menawarkan lelang mobil dan minta uang muka. Mohon jangan dilayani. Sampai hari ini saya tak berpikir beralih profesi jadi juru lelang kendaraan," tulis Rachland dalam cuitannya pada Jumat (17/9).

 

 

Selain itu, penipu juga melampirkan pamflet acara lelang buat semakin meyakinkan calon korban.

 

 

Penipuan melalui aplikasi WhatsApp bukanlah hal yang baru. Mulai dari pengambilalihan akun hingga pemalsuan identitas seperti kasus pada kasus ini.

 

 

Ketua Pusat Penelitian Sistem Keamanan Informasi dan Komunikasi (CISSReC), Pratama Persadha, berpendapat penipuan semacam ini banyak terjadi karena mudah dilakukan. Pelaku hanya perlu menggunakan nomor palsu dan melakukan sedikit riset mengenai profil orang yang akan 'diambil' identitasnya.

Hal tersebut bisa terjadi karena pembelian nomor ponsel baru sangatlah mudah, orang-orang bisa mendapatkan nomor ponsel baru yang sudah aktif teregistrasi dengan harga relatif murah.

"Yang paling mudah adalah kita harus curiga bila diminta untuk transfer namun ke nomor rekening atas nama orang yang tidak kita kenal, atau diminta mengirimkan pulsa ke nomor asing maupun mengirim sejumlah uang ke dompet digital yang nomornya tidak kita kenal," tulis Pratama kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks.

Pratama menambahkan, jika mendapati kasus seperti ini, kita harus mengonfirmasi nomor tersebut, bisa dengan melontarkan beberapa pertanyaan acak yang mungkin hanya orang 'aslinya' yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut

Dalam melakukan aksinya, pelaku cenderung memilih tokoh publik, artis, politikus, atau sosok berpengaruh lain untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Selain itu, target serangan pelaku biasanya adalah orang yang sering memposting barang dagangan dan jasa dengan meninggalkan nomor kontak.

Dihubungi terpisah, pengamat teknologi informasi dan media sosial, Kun Arief Cahyantoro, mengatakan modus penipuan semacam ini dapat dilakukan karena informasi pribadi dari korban tersebar di internet, sehingga pelaku dengan mudah mencatut identitas korban.

Menurut Kun, hal tersebut bisa dicegah dengan tidak menuliskan informasi pribadi (yang diasumsikan dapat digunakan untuk tujuan jahat) di ruang publik. Hal ini pun berlaku untuk orang-orang yang berada di sekitarnya, karena bisa jadi pelaku menyerang korban melalui orang di sekitarnya.

"Selalu waspada karena rekan satu grup di internet (baik yang tampak di aplikasi media sosial atau di direktori kerja) belum tentu merupakan rekan yang sesungguhnya (bisa pelaku kejahatan yang "menyamar" dengan akun rekan tersebut)," ujar Kun pada CNNIndonesia.com melalui pesan teks.

Selain itu, kita harus berhati-hati ketika ada nomor tidak dikenal mengaku sebagai teman atau kerabat kita. Terlebih jika nomor tersebut meminta untuk ditransfer sejumlah uang dengan alasan apapun.

(lnn/ayp)