Berita
Cara Aman Menerima dan Memverifikasi Bukti Transfer
Diterbitkan 30 Oktober 2026
Bukti transfer berupa tangkapan layar atau berkas gambar sering dijadikan dasar untuk menyatakan sebuah pembayaran telah selesai. Dalam praktiknya, dokumen semacam itu sangat mudah disunting sehingga tidak dapat dijadikan pegangan tunggal. Masyarakat perlu membiasakan diri memverifikasi langsung ke sumber resmi, bukan berhenti pada tampilan gambar yang dikirim melalui pesan singkat.
Langkah pertama adalah memastikan dana benar-benar masuk ke rekening penerima. Buka aplikasi mobile banking atau internet banking resmi milik bank yang bersangkutan, lalu periksa mutasi rekening. Dana yang sah akan tercatat sebagai transaksi masuk dengan keterangan yang sesuai. Bila mutasi belum menunjukkan adanya dana masuk, jangan pernah melepas barang, menyerahkan dokumen, atau menyatakan transaksi lunas hanya karena ada bukti transfer berupa gambar.
Langkah berikutnya adalah mencocokkan identitas pengirim dan detail transaksi. Pastikan nama pengirim, nominal, serta waktu transaksi sesuai dengan kesepakatan. Verifikasi juga sebaiknya dilakukan melalui kanal resmi bank, seperti call center yang nomornya tertera di situs resmi atau aplikasi bank, bukan melalui nomor yang dikirim oleh pihak yang mengaku sebagai pembeli. Hindari membuka tautan verifikasi yang tidak jelas asalnya karena berpotensi mengarah ke situs palsu.
Waspadai pula pola penipuan yang memanfaatkan bukti transfer palsu, misalnya dengan mengirim gambar beresolusi tinggi yang tampak meyakinkan atau mendesak agar barang segera dikirim. Pelaku kerap memanfaatkan kelengahan korban yang terburu-buru. Prinsipnya sederhana: dana yang tercatat di rekening adalah satu-satunya dasar yang sah, sedangkan gambar hanya bersifat pendukung dan tidak menggantikan pengecekan mutasi.
Sebagai langkah pencegahan, simpan seluruh bukti komunikasi dan transaksi, gunakan rekening atas nama sendiri, serta hindari bertransaksi melalui rekening pihak ketiga yang tidak jelas. Bila terjadi kejanggalan, segera hubungi bank penerbit rekening dan laporkan kepada kanal pengaduan resmi. Kewaspadaan sejak awal jauh lebih efektif daripada upaya pemulihan setelah kerugian terjadi.
